Untuk Sejawat & Klinisi
rTMS (Stimulasi Magnetik Transkranial)
Ringkasan Bukti Ilmiah & Protokol
rTMS (repetitive transcranial magnetic stimulation) adalah teknik neuromodulasi non-invasif yang telah diteliti sebagai terapi tambahan pada beberapa kondisi neurologis dan psikiatrik. Bukti tingkat tertinggi (meta-analisis RCT dan guideline evidence-based) paling mapan untuk depresi mayor dengan HF-rTMS pada DLPFC kiri, sementara untuk indikasi pasca-stroke (pemulihan motorik, afasia, depresi, disfagia) bukti umumnya mengaitkan rTMS dengan perbaikan dibanding kontrol/sham namun dengan kepastian sedang hingga rendah akibat heterogenitas protokol dan ukuran sampel per studi yang kecil. Parameter protokol belum terstandardisasi di sebagian besar indikasi dan penerapan klinis memerlukan individualisasi oleh klinisi terlatih.
Draf ilmiah. Rangkuman ini disusun dari literatur dan sedang menunggu tinjauan klinis dr. Nyoman sebelum dipublikasikan. Sementara ini halaman diset noindex.
Materi ilmiah untuk tenaga kesehatan · disusun dari literatur, menunggu tinjauan klinis
Keterangan tingkat bukti (Oxford CEBM)
- CEBM 1a Tinjauan sistematis / meta-analisis RCT homogen
Ringkasan Bukti per Indikasi
| Indikasi | Populasi | Tingkat bukti | Ringkasan efek | Protokol (rujukan literatur) | Rujukan |
|---|---|---|---|---|---|
| Pemulihan motorik ekstremitas atas pasca-stroke | Pasien stroke dewasa dengan gangguan motorik ekstremitas atas (fase akut, subakut, hingga kronik) | CEBM 1a Systematic review dan meta-analisis RCT, diperkuat evidence-based guideline (Lefaucheur 2020) dan clinical practice guideline AHA/ASA 2016 | Bukti berjenjang menunjukkan hasil tidak seragam. Cochrane review 2013 belum menemukan efek signifikan rTMS pada fungsi motorik (SMD 0,51; 95% CI -0,99 sampai 2,01) maupun Barthel Index. Meta-analisis yang lebih baru mengaitkan rTMS dengan perbaikan motorik ekstremitas atas berukuran kecil-sedang dibanding kontrol/sham: Chen 2022 (45 RCT, n=2.064) melaporkan SMD 0,38 (95% CI 0,19-0,58) untuk fungsi motorik halus, dan Li 2024 melaporkan perbaikan FMA-UE (MD 1,87; 95% CI 0,88-2,86) serta Barthel Index (MD 9,73; 95% CI 4,57-14,89). Guideline Lefaucheur 2020 memberi rekomendasi Level B untuk rTMS frekuensi rendah pada M1 hemisfer kontralesional pada stroke motorik fase postakut. | Dua pendekatan. (1) Inhibitorik: 1 Hz, 60-100% RMT, 600-1.200 pulsa per sesi, target M1 hemisfer kontralesional, 10-20 sesi. (2) Eksitatorik: 5-20 Hz, 80-120% RMT, 500-2.000 pulsa per sesi, target M1 hemisfer ipsilesional, 10-14 sesi. Umumnya dikombinasikan dengan rehabilitasi konvensional. Heterogenitas antarstudi tinggi; hasil bergantung pada fase stroke, sisi/target stimulasi, dan jumlah sesi. Durabilitas efek jangka panjang belum konsisten dan parameter optimal belum terstandardisasi. Efek samping dilaporkan jarang dan umumnya ringan (nyeri kepala transien sekitar 2,4% pada Cochrane 2013). Keputusan klinis perlu individualisasi oleh klinisi terlatih. | 1 , 2 , 3 , 4 , 5 |
| Afasia pasca-stroke (terutama tipe non-fluent kronik) | Pasien stroke dewasa dengan afasia, terutama tipe non-fluent kronik | CEBM 1a Systematic review dan meta-analisis RCT, didukung guideline evidence-based (Lefaucheur 2020) dengan rekomendasi Level B | Bukti berjenjang mendukung rTMS sebagai terapi tambahan pada afasia non-fluent pasca-stroke. Guideline Lefaucheur 2020 memberi rekomendasi Level B untuk LF-rTMS frekuensi rendah pada girus frontalis inferior kanan (kontralesional) pada afasia non-fluent kronik. Cheng 2024 (47 RCT, 2.190 partisipan) mengaitkan rTMS dengan perbaikan bermakna pada penamaan dan aphasia quotient dibanding kontrol. Network meta-analisis Li 2025 (38 RCT, 1.982 partisipan) mengaitkan cTBS dengan perbaikan penamaan terbesar, sedangkan kombinasi LF/HF-rTMS dan iTBS dikaitkan dengan perbaikan pemahaman dan pengulangan. RCT sham-controlled Waldowski 2012 tidak menemukan perbedaan bermakna pada akurasi penamaan keseluruhan, namun subgrup dengan lesi area bahasa anterior menunjukkan perbaikan, menandai peran seleksi pasien. | Paling banyak dilaporkan: LF-rTMS 1 Hz pada girus frontalis inferior kanan (homolog area Broca, kontralesional; pars opercularis dilaporkan lebih unggul), intensitas 80-90% RMT, sekitar 1.000-1.200 pulsa per sesi, durasi 20-30 menit, 5-6 sesi per minggu selama 2-4 minggu (umumnya 10-15 sesi total). Umumnya dikombinasikan dengan speech and language therapy segera setelah stimulasi. Protokol theta-burst (cTBS, iTBS) juga dilaporkan. Parameter bervariasi antar-studi. Terdapat heterogenitas (protokol, target, tipe afasia, waktu pasca-stroke), banyak trial berukuran kecil, dan sebagian populasi Asia sehingga generalisasi perlu hati-hati. Efek pada afasia fluent dan fase akut kurang mapan dibanding afasia non-fluent kronik. Penerapan klinis harus disesuaikan protokol institusi dan skrining kontraindikasi TMS. | 1 , 6 , 7 , 8 , 2 |
| Depresi pasca-stroke | Pasien stroke dewasa dengan depresi pasca-stroke | CEBM 1a Systematic review dan meta-analisis / network meta-analisis RCT | Beberapa systematic review dan meta-analisis RCT (2021-2025) secara konsisten mengaitkan rTMS dengan perbaikan gejala depresi pasca-stroke dibanding kontrol atau sham. Shao 2021 (7 RCT, 351 pasien) melaporkan penurunan skor depresi lebih besar pada kelompok rTMS (SMD -1,15; 95% CI -1,62 sampai -0,69) dan odds ratio remisi 3,46 (95% CI 1,68 sampai 7,12). Wang 2025 (network meta-analisis, 12 RCT) melaporkan SMD -1,47 (95% CI -1,97 sampai -0,97), dengan modalitas dual-rTMS menempati peringkat SUCRA tertinggi. Pan 2023 (16 RCT, 1.463 pasien) mengaitkan LF-rTMS ditambah antidepresan dengan perbaikan skor HAMD dibanding antidepresan saja (SMD -1,01; 95% CI -1,31 sampai -0,70). Guideline Lefaucheur 2020 memberi rekomendasi Level B untuk indikasi ini. | Target: DLPFC, umumnya DLPFC kiri untuk stimulasi frekuensi tinggi dan DLPFC kanan untuk frekuensi rendah; sebagian bilateral (dual-rTMS). Frekuensi: rendah 0,5-1 Hz (DLPFC kanan) atau tinggi 5-20 Hz, umumnya 10 Hz (DLPFC kiri). Intensitas sekitar 60-120% RMT, paling sering 110% RMT. Jumlah sesi rata-rata 11-12 (rentang 7-20), umumnya 1 sesi per hari, 5-7 hari per minggu, selama 1-4 minggu. Certainty diturunkan oleh heterogenitas tinggi (I-kuadrat sekitar 71-86%), ukuran sampel per studi kecil, dominasi studi dari Asia, dan kualitas metodologi bervariasi. Overview of systematic reviews Gao 2023 menekankan kualitas bukti tergolong rendah sehingga interpretasi manfaat perlu hati-hati. Efek samping tersering nyeri kepala ringan; efek samping serius jarang. Penetapan protokol memerlukan penilaian klinis per pasien dan skrining kontraindikasi rTMS. | 1 , 9 , 10 , 11 , 12 |
| Gangguan depresi mayor (Major Depressive Disorder, MDD) | Pasien dewasa dengan gangguan depresi mayor, termasuk depresi resisten pengobatan | CEBM 1a Systematic review / meta-analisis dan network meta-analisis RCT, diperkuat guideline evidence-based (Lefaucheur 2020) dan RCT non-inferioritas skala besar (THREE-D) | Bukti tingkat tertinggi konsisten mengaitkan HF-rTMS pada DLPFC kiri dengan perbaikan gejala depresi dibanding sham. Guideline Lefaucheur 2020 memberi Level A (efikasi pasti) untuk HF-rTMS DLPFC kiri pada depresi. Network meta-analisis Mutz 2019 (113 RCT, 6.750 pasien) menunjukkan HF-rTMS kiri dikaitkan dengan tingkat respons lebih tinggi dibanding sham (OR 3,17; 95% CI 2,29-4,37). Meta-analisis Teng 2017 (30 RCT, 1.754 subjek) menemukan efek pada keparahan depresi (SMD -0,73; p<0,00001), meningkat seiring jumlah sesi. RCT non-inferioritas THREE-D (Blumberger 2018, 414 pasien) menunjukkan iTBS non-inferior terhadap 10 Hz rTMS pada depresi resisten pengobatan, dengan profil keamanan serupa. | Paling banyak dilaporkan: HF-rTMS pada DLPFC kiri, frekuensi 10 Hz, intensitas sekitar 120% RMT, coil figure-of-8 atau H1-coil. Efek antidepresan maksimal dilaporkan pada 1200-1500 pulsa per sesi, meningkat seiring jumlah sesi (5, 10, 15, 20 sesi). THREE-D: 10 Hz rTMS DLPFC kiri (sekitar 37,5 menit per sesi) versus iTBS DLPFC kiri (sekitar 3 menit per sesi), keduanya 120% RMT, 5 hari per minggu selama 4-6 minggu. Penargetan DLPFC kiri dapat memakai metode 5 cm, sistem EEG (F3), atau neuronavigasi. Kepastian tinggi untuk HF-rTMS DLPFC kiri (Level A guideline, konsisten lintas meta-analisis). Heterogenitas tetap ada terkait variasi protokol dan populasi (resisten vs non-resisten). Efek dosis-respons dilaporkan. Penetapan indikasi, seleksi pasien, dan skrining kontraindikasi (mis. riwayat kejang, implan feromagnetik) harus dilakukan klinisi berpengalaman. | 1 , 13 , 14 , 15 |
| Disfagia pasca-stroke | Pasien stroke dewasa dengan gangguan menelan (disfagia) | CEBM 1a Systematic review dan meta-analisis RCT, dengan umbrella review yang mensintesis 19 systematic review | Beberapa meta-analisis RCT mengaitkan rTMS dengan perbaikan fungsi menelan dibanding kontrol/terapi konvensional, terutama bila dikombinasikan dengan latihan menelan tradisional. Wen 2022 (11 RCT, 463 pasien) melaporkan efek menguntungkan bermakna dengan perbedaan signifikan menurut frekuensi stimulasi (frekuensi tinggi vs rendah, P=0,008). Yang 2021 (10 RCT, 189 pasien) melaporkan SMD 0,65 (95% CI 0,04-1,26) mendukung rTMS. Peng 2025 (18 RCT, 835 pasien) mengaitkan rTMS frekuensi tinggi dengan perbaikan menelan sementara frekuensi rendah tidak menunjukkan perbaikan bermakna; pendekatan serebelar dan bilateral serebral dikaitkan dengan hasil lebih baik. Umbrella review Georgiou 2024 menemukan semua meta-analisis melaporkan efek setidaknya moderat (rentang SMD 0,59-6,23), namun mencatat kualitas metodologis review yang rendah. | Frekuensi: rTMS frekuensi tinggi (3-10 Hz, terutama 3 Hz dan 5 Hz) dikaitkan dengan efek lebih besar dibanding frekuensi rendah (1 Hz). Intensitas sekitar 80-130% RMT (mayoritas 90-120% RMT). Target: area motorik menelan (representasi mylohyoid/faring pada korteks motorik) pada hemisfer sisi lesi, non-lesi, atau bilateral; sebagian studi terbaru menargetkan serebelum. Pulsa sekitar 250-2.400 per sesi. Jumlah sesi umumnya 5-14 selama sekitar 2 minggu, sering dikombinasikan dengan latihan menelan tradisional. Kepastian sedang hingga rendah. Meski desain 1a, heterogenitas tinggi (I-kuadrat sekitar 78% pada beberapa analisis), ukuran sampel per RCT kecil, dan penilaian AMSTAR 2 menilai mayoritas systematic review berkualitas rendah hingga sangat rendah. Guideline Lefaucheur 2020 belum menetapkan level rekomendasi untuk indikasi ini. Efek samping dilaporkan ringan dan sementara (pusing, nyeri kepala). Penentuan protokol harus individual oleh klinisi terlatih dengan skrining kontraindikasi TMS. | 1 , 16 , 17 , 18 , 19 |
Parameter protokol di atas merupakan rangkuman dari literatur dan konsensus, bukan resep baku. Penentuan protokol final tetap bergantung pada asesmen, indikasi, kontraindikasi, dan penilaian klinis dokter untuk tiap pasien.
Daftar Referensi
Seluruh rujukan telah melewati verifikasi tautan (DOI/PMID). 19 sumber.
- 1. Lefaucheur JP, Aleman A, Baeken C, Benninger DH, Brunelin J, Di Lazzaro V, et al. (2020). Evidence-based guidelines on the therapeutic use of repetitive transcranial magnetic stimulation (rTMS): An update (2014-2018). Clin Neurophysiol. 2020 Feb;131(2):474-528. doi:10.1016/j.clinph.2019.11.002. PMID: 31901449
- 2. Winstein CJ, Stein J, Arena R, Bates B, Cherney LR, Cramer SC, et al.; American Heart Association Stroke Council (2016). Guidelines for Adult Stroke Rehabilitation and Recovery: A Guideline for Healthcare Professionals From the American Heart Association/American Stroke Association. Stroke. 2016;47(6):e98-e169. PMID: 27145936
- 3. Hao Z, Wang D, Zeng Y, Liu M (2013). Repetitive transcranial magnetic stimulation for improving function after stroke. Cochrane Database of Systematic Reviews. 2013 May 31;2013(5):CD008862. doi:10.1002/14651858.CD008862.pub2. PMID: 23728683
- 4. Chen G, Lin T, Wu M, Cai G, Ding Q, Xu J, Li W, Wu C, Chen H, Lan Y (2022). Effects of repetitive transcranial magnetic stimulation on upper-limb and finger function in stroke patients: A systematic review and meta-analysis of randomized controlled trials. Frontiers in Neurology 2022;13:940467. DOI: 10.3389/fneur.2022.940467
- 5. Li R, Liu S, Li T, Yang K, Wang X, Wang W (2024). The stratified effects of repetitive transcranial magnetic stimulation in upper limb motor impairment recovery after stroke: a meta-analysis. Frontiers in Neurology 2024;15:1369836. PMID: 38628695
- 6. Cheng J, Jiang Y, Rao T, Yang Y, Liu Y, Zhan Y, Yang S (2024). Repetitive transcranial magnetic stimulation for post-stroke non-fluent aphasia: a systematic review and meta-analysis of randomized controlled trials. Frontiers in Neurology 2024;15:1348695. DOI: 10.3389/fneur.2024.1348695
- 7. Li P, Xiao R, Gong M, Jia P, Jin S (2025). Efficacy of different types of transcranial magnetic stimulation on post-stroke aphasia patients: a network meta-analysis. Frontiers in Neurology 2025;16:1597504. DOI: 10.3389/fneur.2025.1597504
- 8. Waldowski K, Seniow J, Lesniak M, Iwanski S, Czlonkowska A (2012). Effect of Low-Frequency Repetitive Transcranial Magnetic Stimulation on Naming Abilities in Early-Stroke Aphasic Patients: A Prospective, Randomized, Double-Blind Sham-Controlled Study. ScientificWorldJournal. 2012;2012:518568. doi:10.1100/2012/518568. PMID: 23213288
- 9. Shao D, Zhao ZN, Zhang YQ, Zhou XY, Zhao LB, Dong M, Xu FH, Xiang YJ, Luo HY (2021). Efficacy of repetitive transcranial magnetic stimulation for post-stroke depression: a systematic review and meta-analysis of randomized clinical trials. Braz J Med Biol Res. 2021;54(3):e10010. PMID: 33470386
- 10. Wang Y, Feng H, Wang H (2025). Repetitive transcranial magnetic stimulation for treating post-stroke depression: a systematic review and network meta-analysis. BMC Psychiatry. 2025. PMID: 40665248
- 11. Pan J, Li H, Wang Y, Lu L, Wang Y, Zhao T, Zhang D, Jin S (2023). Effects of low-frequency rTMS combined with antidepressants on depression in patients with post-stroke depression: a systematic review and meta-analysis. Frontiers in Neurology. 2023. PMID: 37273720
- 12. Gao W, Xue F, Yu B, Yu S, Zhang W, Huang H (2023). Repetitive transcranial magnetic stimulation for post-stroke depression: An overview of systematic reviews. Frontiers in Neurology. 2023. PMID: 37006488
- 13. Mutz J, Vipulananthan V, Carter B, Hurlemann R, Fu CHY, Young AH (2019). Comparative efficacy and acceptability of non-surgical brain stimulation for the acute treatment of major depressive episodes in adults: systematic review and network meta-analysis. BMJ 2019;364:l1079. DOI: 10.1136/bmj.l1079
- 14. Teng S, Guo Z, Peng H, Xing G, Chen H, He B, McClure MA, Mu Q (2017). High-frequency repetitive transcranial magnetic stimulation over the left DLPFC for major depression: Session-dependent efficacy: A meta-analysis. European Psychiatry. 2017 Mar;41:75-84. DOI: 10.1016/j.eurpsy.2016.11.002
- 15. Blumberger DM, Vila-Rodriguez F, Thorpe KE, Feffer K, Noda Y, Giacobbe P, Knyahnytska Y, Kennedy SH, Lam RW, Daskalakis ZJ, Downar J (2018). Effectiveness of theta burst versus high-frequency repetitive transcranial magnetic stimulation in patients with depression (THREE-D): a randomised non-inferiority trial. Lancet 2018;391(10131):1683-1692. DOI: 10.1016/S0140-6736(18)30295-2
- 16. Wen X, Liu Z, Zhong L, Peng Y, Wang J, Liu H, Gong X (2022). The Effectiveness of Repetitive Transcranial Magnetic Stimulation for Post-stroke Dysphagia: A Systematic Review and Meta-Analysis. Frontiers in Human Neuroscience. 2022. PMID: 35370584
- 17. Yang W, Cao X, Zhang X, Wang X, Li X, Huai Y (2021). The Effect of Repetitive Transcranial Magnetic Stimulation on Dysphagia After Stroke: A Systematic Review and Meta-Analysis. Frontiers in Neuroscience. 2021;15:769848. PMID: 34867171
- 18. Peng XM, Gong C, Xiao MX, Chen LS, Li Y, Chen J, Wang MY, Luo Y (2025). Effect of repetitive transcranial magnetic stimulation with different stimulation parameters on post-stroke dysphagia: a systematic review and meta-analysis of randomized controlled trials. Frontiers in Neurology. 2025. PMID: 40474922
- 19. Georgiou AM, Phylactou P, Kambanaros M (2024). The effectiveness of transcranial magnetic stimulation for dysphagia in stroke patients: an umbrella review of systematic reviews and meta-analyses. Frontiers in Human Neuroscience. 2024;18:1355407. PMID: 38550720
Diskusi Ilmiah Antar Sejawat
Ingin mendiskusikan penerapan rTMS (Stimulasi Magnetik Transkranial) pada kasus tertentu? Anda dapat berdiskusi langsung dengan dr. Nyoman.
Materi ilmiah untuk tenaga kesehatan, bukan pengganti penilaian klinis atau panduan resmi. Keputusan penanganan tiap pasien sepenuhnya pada dokter yang merawat.